MENGURANGI TINDAKAN
SEKS BEBAS PADA REMAJA DENGAN PEMBERDAYAAN KEDER REMAJA SEHAT SEKS
Oleh Ahmad Heri Nugroho
1301413108
Abstrak
Pada masa sekarang ini banyak sekali budaya bebas marak pada kalangan remaja terutama pada perilaku pergaulan bebas. Perilaku pergualan bebas yang paling marak adalah perilaku seks bebas. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan seks pada kalangan remaja tersebut dan kontrol dari keluarga, juga orang bertanggung jawab terhadap para remaja tersebut. Kerena hal tersebut memicu rasa ingin tahu yang tinggi yang membuat perilaku coba-coba pada remaja karena rasa ingin tahunya tidak terpenuhi untuk pencarian identitas. Dengan pemberdayaan para remaja untuk menjadi kader sehat seks dan di bekali dengan pengetahuan seks akan memenuhi rasa ingin tahu pada anak, sehingga diharapkan para remaja tidak lagi melakukan tindakan seks bebas, dan memperluas remaja lain untuk menjadi kader remaja sehat seks.
Kata Kunci : Seks Bebas, Remaja, dan Sehat Seks
Pendahuluan
Pada masa globalisasi ini banyak sekali
masuknya buaday-budaya bebas yang berkembang di masyarakat, sehingga
budaya-budaya tersebut juga mempengaruhi tentang perilaku pergaulan yang
saangat bebas juga. Hal tersebut juga mempengaruhi pergaulan yang dilakukan
oleh anak remaja, dimana anak remaja tersebut memiliki sifat dan rasa ingin
tahu yang tinggi. Dengan adanya pergaulan bebas tersebut maka kotrol dari beberapa
pihak sangatlah penting karena hal tersebut akan mempengaruhi pola pergaulan
pada anak remaja.
Dimasa kini juga pergaulan yang paling
disorot pada remaja adalah pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku seks
bebas. Hal tersbut terbukti dari hasil peneliti yang dilakukan oleh KPAI
(Komisi Perlindungan Anak Indonesia) (dalam Abdillah, 2011) pada tahun 2010
mendapatkan suatu hasil kuantitatif sebanyak 62,7 % remaja yang masih berada di
bangku SMP sudah melaksanakan hubungan seks pranikah dan 21,2% darinya telah
melakukan suatu tidakan aborsi tersebut sebagai tanda ketakutan para remaja
tersebut menghadapi kehamilan diusia dini.
Pada pemaparan di atas dapat kita
ketahui bahwa prilaku seks bebas pada remaja sudah banyak terjadi, hal tersebut
terjadi dikarenakan kurangnya kontrol pada pergaulan anak yang dilakukan oleh
para orang tua sehingga periaku mereka melampaui batas.
Dengan demikian sangatlah penting
pemahaman tentang seks kepada anak sehingga anak menjadi mengereti bagaimana
caranya untuk bisa engendalikan seks sehingga tidak salah persepsi dan
pergaulan dalam seks.
Karena hal terrsbut maka pentinglah
kader-kader remmaja untuk diberdayaan upaya mengetahui dan menjadi pelopor akan
sehat seks di masyarakat. Sehingga dapat juga mengurangi kasus yang berkaitan
dengan seks bebas.
Tinjauan Pustaka
A.
Perkembangan
Masa Remaja
Masa
remaja diawali sejak masa puber dan
diakhiri pada usia 18 atau 20 tahun, pada masa ini remaja daam kedaan pencarian
identitas dan merasa kebingungan dengan identitasnyaa. Menurut Haryadi dan
Muslikah (2013:95) dorongan membentuk dan memperlihatkkan identitas diri ini,
pada para remaja sering ali sangat ekstrim dan berlebihan sehingga tidk jarang
dipandang masyaraat sebagai penyimpngan atau kenakalan. Sehingga pada masa
remaja ini sangatlah penting untuk mendapatkan suatu perhatian dan kontrol dari
keluarga untuk bisa mengarahkan para remaja pada penemuan identitasnya, dan
supaya tidak salah.
Dengan adanya
hal tersebut diatas maka para remaja dalam pencarian identitas biasanya sekali
melakukan suatu percbaan-percobaan hingga ia mennemuakan hal yang nyaman untuk
dia tekuni. Akan tetapi jika jika kecenderungan
identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka
mereka tidak akan menyiakan sedikit ruang toleransi lingkungannya.
Tugas-Tugas
Perkkembangan
Meurut Harlock (dalam Haryanto, 2009) Tugas
perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meningkatkan sikap dan perilaku
kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku
secara dewasa.
Tugas-tugas perkembangan anak remaja
adalah:
a.
Mampu menerima keadaan fisiknya;
b.
Mampu menerima dan memahami peran seks
usia dewasa;
c.
Mampu membina hubungan baik dengan
anggota kelompok yang berlainan jenis;
d.
Mencapai kemandirian emosional;
e.
Mencapai kemandirian ekonomi;
f.
Mengembangkan konsep dan keterampilan
intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota
masyarakat;
g.
Memahami dan menginternalisasikan
nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;
h.
Mengembangkan perilaku tanggung jawab
social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa;
i.
Mempersiapkan diri untuk memasuki
perkawinan;
j.
Memahami dan mempersiapkan berbagai
tanggung jawab kehidupan keluarga.
Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Sari,
2008) bahwa secara umum ada faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja :
1.
Faktor Endogen
Dalam pandangan ini
dinyatakan bahwa perubahan fisik dan psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang
bersifat herediter yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya, misalnya postur
tubuh, bakat, minat, kecerdasan, kepribadian, dan sebagainya.
2.
Faktor Eksogen
Dalam pandangan ini
menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan indivudu sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu sendiri. Faktor ini
diantaranya berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.
Kenakalan Remaja
Menurut Kartono (dalam Haryanto, 2011) “Kenakalan
Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency
merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk
pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang
menyimpang”.
Jenis-jenis kenakalan
remaja
a)
Penyalahgunaan narkoba
b)
Seks bebas
c)
Tawuran antara pelajar
Faktor Penyebab
Kenakalan Remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar
(eksternal).
Faktor internal
Krisis identitas: Perubahan biologis dan
sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa integrasi kedua.
Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak
bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang
tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka
yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa
mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak
adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota
keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di
keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan
agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab
terjadinya kenakalan.
B. Seks Bebas
Menurut Nova (2013) seks bebas adalah
segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis
maupun sesama jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan mulai dari
necking, petting sampai intercourse dan bertentangan dengan norma-norma tingkah
laku seksual dalam masyarakat yang tidak bisa diterima secara umum.
Dari pernyataan diatas dapat kita
ketahui bahwa seks bebas sangat rentan sekali pada periaku penyimpangan dimana perilaku penyimpangan itu sendiri adalah perilaku yang tidak sesuai
dengan norma-norma yang ada di masyarakat.
Penyebab Perilaku Seks
Bebas
Penyebab perilaku seks bebas sangat
beragam. Pemicunya bisa karena pengaruh lingkungan, sosial budaya, penghayatan
keagamaan, penerapan nilai-nilai, faktor psikologis hingga faktor ekonomi.
Adapun beberapa penelitian mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya perilaku seks bebas menurut Hyde (1990), yaitu:
Usia
Makin dewasa seseorang, makin besar
kemungkinan remaja untuk melakukan hubungan seks bebas. Hal ini dikarenakan
pada usia ini adalah potensial aktif bagi mereka untuk melakukan perilaku seks
bebas.
Usia
yang muda saat berhubungan seksual pertama
Semakin muda usia pada hubungan seksual
yang pertama cenderung untuk lebih permisif daripada mereka yang lebih dewasa
pada hubungan seksualnya yang pertama.
Usia
saat menstruasi pertama
Makin muda saat usia menstruasi pertama,
makin mungkin terjadinya hubungan seks pada remaja. Perubahan pada hormon yang
terjadi seiring dengan menstruasi berkontribusi pada meningkatkatnya
keterlibatan seksual pada sikap dan hubungan dengan lawan jenis.
Agama
Kereligiusan dan rendahnya sikap serba
boleh dalam perilaku seks berjalan sejajar seiringan. Clayton & Bokemier
meneliti bahwa sikap permisif terhadap hubungan seks bebas dapat dilihat dari
aktivitas keagamaan dan religiusitas (Rice, 1990).
Pacar
Remaja yang memiliki pacar lebih mungkin
untuk melakukan seks bebas daripada remaja yang belum memiliki pacar.
Kencan yang lebih awal
Remaja yang memiliki kencan lebih awal
atau cepat dari remaja yang seumurannya memiliki kemungkinan untuk bersikap
permisif dalam hubungan seks bebas. Untuk menjadi lebih aktif secara seksual
dan untuk memiliki hubungan dengan lebih banyak pasangan daripada mereka yang
mulai pacaran pada usia yang lebih lanjut.
Pengalaman
pacaran/kencan (hubungan afeksi)
Individu yang menjalin hubungan
afeksi/pacaran dari umur yang lebih dini, cenderung lebih permisif terhadap
perilaku seks bebas begitu juga halnya dengan individu yang telah lebih banyak
berpacaran dari individu yang berusia sebaya dengannya.
Orang tua
Orang tua sendiri, baik karena
ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukkan pembicaraan
mengenai seks dengan anak tidak terbuka pada anak, malah cenderung membuat
jarak pada anak mengenai masalah seks.
Teman
sebaya (peers group)
Remaja cenderung untuk membuat standar
seksual sesuai dengan standar teman sebaya secara umum, remaja cenderung untuk
menjadi lebih aktif secara seksual apabila memiliki kelompok teman sebaya yang
demikian, serta apabila mereka mempercayai bahwa teman sebayanya aktif secara
seksual (disamping kenyataan bahwa teman sebayanya sebenarnya memang aktif atau
tidak secara seksual) pengaruh kelompok teman sebaya pada aktivitas seksual
remaja terjadi melalui dua cara yang berbeda, namun saling mendukung, pertama,
ketika kelompok teman sebaya aktif secara seksual, mereka menciptakan suatu
standar normatif bahwa hubungan seks bebas adalah suatu yang dapat diterima,
kedua, teman sebaya menyebabkan perilaku seksual satu sama lainnya secara
langsung, baik melalui komunikasi diantara teman ataupun dengan pasangan
seksualnya.
Kebebasan
Kebebasan sosial dan seksual yang tinggi
berkorelasi dengan sikap permisif dalam seks yang tinggi.
Daya tarik seksual
Mereka yang merasa paling menarik secara
seksual dan sosial ternyata memiliki tingkat yang paling tinggi dalam sikap
permisif dalam melakukan seks bebas.
Standar orang tua vs
standar teman
Remaja yang orangtuanya konservatif dan
menjadikan orangtua sebagai acuan yang utama lebih kurang kemungkinannya untuk
melakukan seks bebas daripada mereka yang menjadikan teman sebaya sebagai acuan
utama.
Saudara kandung
Remaja, secara khusus remaja puteri
dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku saudara kandung dengan jenis kelamin
yang sama.
Gender
Remaja puteri cenderung bersikap
permisif dalam hal seksual daripada remaja pria. Remaja puteri lebih menekankan
pada kualitas hubungan yang sedang dijalin sebelum terjadinya seks bebas.
Ketidakhadiran
orang tua
Jika ada remaja yang berperilaku seks
bebas, itu hanya bebasnya pergaulan, dan mungkin penyebabnya dari faktor
bimbingan dan pola asuh dari orangtua di rumah yang tidak peduli atau tidak
terbuka untuk membicarakan masalah seks pada anaknya, padahal disaat ini dunia
remaja semakin bebas. Pada keluarga yang berada di kota besar, sudah merupakan
suatu pola kehidupan yang wajar di mana ayah dan ibu bekerja. Hal tersebut
seringkali mengakibatkan kehidupan anak-anak mereka kurang mendapatkan
pengawasan orang tua dan memiliki kebebasan yang terlalu besar.
Kecenderungan pergaulan
yang makin bebas
Di pihak lain, tidak dapat dipungkiri
adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam
masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga
kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.
Penyebaran Informasi
Melalui Media Massa
Kecenderungan pelanggaran makin
meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual
melalui media massa yang dengan adanya tekhnologi yang semakin berkembang
(video kaset, foto kopi, vcd, hp, internet) menjadi tidak terbendung lagi.
Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa
yang dilihat atau didengarnya dari media massa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa faktor penyebab perilaku seks bebas adalah dari dalam keluarga, media
massa, dan dari pengaruh peers (teman sebaya).
C. Seks Edukasi
Menurut
Purnama (2011) Pendidikan seks (sex
education) adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia
yang jelas dan benar. Informasi itu meliputi proses terjadinya pembuahan,
kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan
aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan.
Pentingnya Pendidikan
Seks (Sex Education) Bagi Remaja
Ada
beberapa hal mengenai Pentingnya Pendidikan Seks bagi Remaja, diantaranya
yaitu:
a)
Untuk mengetahui informasi seksual bagi
remaja
b)
Memiliki kesadaran akan pentingnya
memahami masalah seksualitas
c)
Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi
seksualnya
d)
Memahami masalah-masalah seksualitas
remaja
e)
Memahami faktor-faktor yang menyebabkan
timbulnya masalah-masalah seksualitas
Selain
itu ada dua faktor mengapa pendidikan seks (sex education) sangat penting bagi
remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka
belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa
membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Sehingga dari ketidak fahaman
tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan
anatomi reproduksinya.
Faktor
kedua, dari ketidakfahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi
mereka, di lingkungan sosial masyarakat, hal ini ditawarkan hanya sebatas
komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi,
antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini
sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakfahaman remaja
tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya
hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus
HIV dan sebagainya.
Ada
beberapa pendapat yang bilang, ”sex education” memang pantas dimasukkan dalam
kurikulum di sekolah menengah, apalagi siswa pada ini adalah masa pubertas.
Pendidikan Seks ”Sex education” sangat perlu sekali untuk mengantisipasi,
mengetahui atau mencegah kegiatan seks bebas dan mampu menghindari
dampak-dampak negatif lainnya.
Mungkin
kita baru menyadari betapa pentingnya pendidikan seks karena banyak kasus
pergaulan bebas muncul di kalangan remaja dewasa ini. Kalau kita berbicara
tentang pergaulan bebas, hal ini sebenarnya sudah muncul dari dulu, hanya saja
sekarang ini terlihat semakin parah. Pergaulan bebas remaja ini bisa juga
karena dipicu dengan semakin canggihnya kemajuan teknologi, juga sekaligus dari
faktor perekonomian global. Namun hanya menyalahkan itu semua juga bukanlah hal
yang tepat. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu memberikan pendidikan
seks (sex education) kepada generasi muda.
D. Peberdayaan
Kader Remaja Sehat Sex
Dengan
hasil data yang didapat suatu seks edukasi sangat penting bagi para remaja,
untuk mengetahui suatu penyebab dan akibat dari perilaku8 seks yang menyimpang.
Dengan adanya seks edukasi diharapkan remaja dapat mengetahui seks yang sehat
dan dapat mengurangi perilaku dan dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks
bebas yang marak terjadi dilingkup para remaja.
Dari
hasil yang di atas perilaku seks bebas memang marak terjadi pada anak-anak usia
remaja. Dengan adanya pemberdayaan pada remaja terutama pada pengetahuan
seksual sangat penting karena hal tersebut diharapkan bisa mengurang perilaku
seks bebas pada anak remaja.
Dengan
adanya kegiatan pemberdayaan kader remaja sehat seks adalah mencari para
anak-anak remaja yang masih peduli atau sudah terjangkit padaa perilaku seks
bebas, hal tersebut dimaksudkan untuk menyadarkan para remaja untuk tetap
menjaga perilakunya dalam seks, sehingga perilaku seks bebas tidak lagi
dilakukan dan tidak pernah dilakukan.
Pada
kegiatan di Pemberdayaan Kader Remaja Sehat Seks, para remaja yang dikader
untuk berperilaku sehat seks tersebut dibekali tentang pengetahuan-pengetahuan
seks atau yang sering disebut dengan seks edukasi, sehingga para kader tersebut
bisa pemberi pengetahuan seks kepada remaja-remaja yang lain dan mengajak para
remaja yang lain untuk ikut menjadi kader remaja yang sehat seks.
Dalam kegiatan
tersebut diharapkan para kader sehat seks menjnadi meluas sehingga semakin
banyak pula para remaja mengetahui tentang pengetahuan seks, diharapkan dengan
adanya pengetahuan seks bebas para remaja pun tidak lagi masuk dalam perilaku
seks bebas yang sangat marak pada kalangan remaja dan menciptakan remaja yang
sehat seks.
Daftar Pustaka
Abdillah, Fuad Adam. Makna Hubungan Seks
Bagi Remaja yang Belum, Menikah di Kota Besar Surabaya. Juranal Universitas
Airlangga. Surabaya : Universitas Airlangga
Haryadi, Sigit dan Muslikah. 2013. Perkembangan Individu. Semarang :
Depabliser
Haryanto. 2009. Pengertian Remaja. http://belajarpsikologi.com/.
Diakses pada tanggal 24-11-2014 : 21.00.
Haryanto. 2011. Kenakalan Remaja. http://belajarpsikologi.com/.
Diakses pada tanggal 24-11-2014 : 22.14.
Nova.
2013. Seks Bebas. http://nopanova1.blogspot.com/p/pengertian-dan-penyebab-prilaku-seks_23.html.
Diakses pada tanggal 25-11-2014: 08.30.
Purnama, Dian Septi. 2011. Seks Edukasi. http://belajarpsikologi.com/. Diakses pada tanggal
24-11-2014 : 21.00.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berikan komentar dengan baik dan sopan !