Rabu, 03 Desember 2014

MENGURANGI TINDAKAN SEKS BEBAS PADA REMAJA DENGAN PEMBERDAYAAN KEDER REMAJA SEHAT SEKS


MENGURANGI TINDAKAN SEKS BEBAS PADA REMAJA DENGAN PEMBERDAYAAN KEDER REMAJA SEHAT SEKS
Oleh Ahmad Heri Nugroho
1301413108

Abstrak
Pada masa sekarang ini banyak sekali budaya bebas marak pada kalangan remaja terutama pada perilaku pergaulan bebas. Perilaku pergualan bebas yang paling marak adalah perilaku seks bebas. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan seks pada kalangan remaja tersebut dan kontrol dari keluarga, juga orang bertanggung jawab terhadap para remaja tersebut. Kerena hal tersebut memicu rasa ingin tahu yang tinggi yang membuat perilaku coba-coba pada remaja karena rasa ingin tahunya tidak terpenuhi untuk pencarian identitas. Dengan pemberdayaan para remaja untuk menjadi kader sehat seks dan di bekali dengan pengetahuan seks akan memenuhi rasa ingin tahu pada anak, sehingga diharapkan para remaja tidak lagi melakukan tindakan seks bebas, dan memperluas remaja lain untuk menjadi kader remaja sehat seks.
Kata Kunci : Seks Bebas, Remaja, dan Sehat Seks
Pendahuluan
Pada masa globalisasi ini banyak sekali masuknya buaday-budaya bebas yang berkembang di masyarakat, sehingga budaya-budaya tersebut juga mempengaruhi tentang perilaku pergaulan yang saangat bebas juga. Hal tersebut juga mempengaruhi pergaulan yang dilakukan oleh anak remaja, dimana anak remaja tersebut memiliki sifat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan adanya pergaulan bebas tersebut maka kotrol dari beberapa pihak sangatlah penting karena hal tersebut akan mempengaruhi pola pergaulan pada anak remaja.
Dimasa kini juga pergaulan yang paling disorot pada remaja adalah pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku seks bebas. Hal tersbut terbukti dari hasil peneliti yang dilakukan oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) (dalam Abdillah, 2011) pada tahun 2010 mendapatkan suatu hasil kuantitatif sebanyak 62,7 % remaja yang masih berada di bangku SMP sudah melaksanakan hubungan seks pranikah dan 21,2% darinya telah melakukan suatu tidakan aborsi tersebut sebagai tanda ketakutan para remaja tersebut menghadapi kehamilan diusia dini.
Pada pemaparan di atas dapat kita ketahui bahwa prilaku seks bebas pada remaja sudah banyak terjadi, hal tersebut terjadi dikarenakan kurangnya kontrol pada pergaulan anak yang dilakukan oleh para orang tua sehingga periaku mereka melampaui batas.
Dengan demikian sangatlah penting pemahaman tentang seks kepada anak sehingga anak menjadi mengereti bagaimana caranya untuk bisa engendalikan seks sehingga tidak salah persepsi dan pergaulan dalam seks.
Karena hal terrsbut maka pentinglah kader-kader remmaja untuk diberdayaan upaya mengetahui dan menjadi pelopor akan sehat seks di masyarakat. Sehingga dapat juga mengurangi kasus yang berkaitan dengan seks bebas.
Tinjauan Pustaka
A.    Perkembangan Masa Remaja
Masa remaja diawali sejak  masa puber dan diakhiri pada usia 18 atau 20 tahun, pada masa ini remaja daam kedaan pencarian identitas dan merasa kebingungan dengan identitasnyaa. Menurut Haryadi dan Muslikah (2013:95) dorongan membentuk dan memperlihatkkan identitas diri ini, pada para remaja sering ali sangat ekstrim dan berlebihan sehingga tidk jarang dipandang masyaraat sebagai penyimpngan atau kenakalan. Sehingga pada masa remaja ini sangatlah penting untuk mendapatkan suatu perhatian dan kontrol dari keluarga untuk bisa mengarahkan para remaja pada penemuan identitasnya, dan supaya tidak salah.
Dengan adanya hal tersebut diatas maka para remaja dalam pencarian identitas biasanya sekali melakukan suatu percbaan-percobaan hingga ia mennemuakan hal yang nyaman untuk dia tekuni. Akan tetapi jika jika kecenderungan  identitas ego lebih kuat dibandingkan dengan kekacauan identitas, maka mereka tidak akan menyiakan sedikit ruang toleransi lingkungannya.
Tugas-Tugas Perkkembangan
Meurut Harlock (dalam Haryanto, 2009) Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meningkatkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa.
Tugas-tugas perkembangan anak remaja adalah:
a.       Mampu menerima keadaan fisiknya;
b.      Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa;
c.       Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis;
d.      Mencapai kemandirian emosional;
e.       Mencapai kemandirian ekonomi;
f.       Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat;
g.      Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua;
h.      Mengembangkan perilaku tanggung jawab social yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa;
i.        Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan;
j.        Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Menurut Gunarsa dan Gunarsa (dalam Sari, 2008) bahwa secara umum ada faktor-faktor yang mempengaruhi seorang remaja :
1.      Faktor Endogen 
Dalam pandangan ini dinyatakan bahwa perubahan fisik dan psikis dipengaruhi oleh faktor internal yang bersifat herediter yaitu yang diturunkan oleh orang tuanya, misalnya postur tubuh, bakat, minat, kecerdasan, kepribadian, dan sebagainya.
2.      Faktor Eksogen
Dalam pandangan ini menyatakan bahwa perubahan dan perkembangan indivudu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri individu sendiri. Faktor ini diantaranya berupa lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.


Kenakalan Remaja
Menurut Kartono (dalam Haryanto, 2011) “Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
Jenis-jenis kenakalan remaja
a)    Penyalahgunaan narkoba
b)   Seks bebas
c)    Tawuran antara pelajar
Faktor Penyebab Kenakalan Remaja
Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal
Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
    Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal
Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan.
B.  Seks Bebas
Menurut Nova (2013) seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan di luar hubungan pernikahan mulai dari necking, petting sampai intercourse dan bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual dalam masyarakat yang tidak bisa diterima secara umum.
Dari pernyataan diatas dapat kita ketahui bahwa seks bebas sangat rentan sekali pada periaku penyimpangan  dimana perilaku penyimpangan  itu sendiri adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat.


Penyebab Perilaku Seks Bebas
Penyebab perilaku seks bebas sangat beragam. Pemicunya bisa karena pengaruh lingkungan, sosial budaya, penghayatan keagamaan, penerapan nilai-nilai, faktor psikologis hingga faktor ekonomi. Adapun beberapa penelitian mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku seks bebas menurut Hyde (1990), yaitu:
Usia
Makin dewasa seseorang, makin besar kemungkinan remaja untuk melakukan hubungan seks bebas. Hal ini dikarenakan pada usia ini adalah potensial aktif bagi mereka untuk melakukan perilaku seks bebas.
Usia yang muda saat berhubungan seksual pertama
Semakin muda usia pada hubungan seksual yang pertama cenderung untuk lebih permisif daripada mereka yang lebih dewasa pada hubungan seksualnya yang pertama.
Usia saat menstruasi pertama
Makin muda saat usia menstruasi pertama, makin mungkin terjadinya hubungan seks pada remaja. Perubahan pada hormon yang terjadi seiring dengan menstruasi berkontribusi pada meningkatkatnya keterlibatan seksual pada sikap dan hubungan dengan lawan jenis.
Agama
Kereligiusan dan rendahnya sikap serba boleh dalam perilaku seks berjalan sejajar seiringan. Clayton & Bokemier meneliti bahwa sikap permisif terhadap hubungan seks bebas dapat dilihat dari aktivitas keagamaan dan religiusitas (Rice, 1990).


Pacar
Remaja yang memiliki pacar lebih mungkin untuk melakukan seks bebas daripada remaja yang belum memiliki pacar.
Kencan yang lebih awal
Remaja yang memiliki kencan lebih awal atau cepat dari remaja yang seumurannya memiliki kemungkinan untuk bersikap permisif dalam hubungan seks bebas. Untuk menjadi lebih aktif secara seksual dan untuk memiliki hubungan dengan lebih banyak pasangan daripada mereka yang mulai pacaran pada usia yang lebih lanjut.
Pengalaman pacaran/kencan (hubungan afeksi)
Individu yang menjalin hubungan afeksi/pacaran dari umur yang lebih dini, cenderung lebih permisif terhadap perilaku seks bebas begitu juga halnya dengan individu yang telah lebih banyak berpacaran dari individu yang berusia sebaya dengannya.
Orang tua
Orang tua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukkan pembicaraan mengenai seks dengan anak tidak terbuka pada anak, malah cenderung membuat jarak pada anak mengenai masalah seks.
Teman sebaya (peers group)
Remaja cenderung untuk membuat standar seksual sesuai dengan standar teman sebaya secara umum, remaja cenderung untuk menjadi lebih aktif secara seksual apabila memiliki kelompok teman sebaya yang demikian, serta apabila mereka mempercayai bahwa teman sebayanya aktif secara seksual (disamping kenyataan bahwa teman sebayanya sebenarnya memang aktif atau tidak secara seksual) pengaruh kelompok teman sebaya pada aktivitas seksual remaja terjadi melalui dua cara yang berbeda, namun saling mendukung, pertama, ketika kelompok teman sebaya aktif secara seksual, mereka menciptakan suatu standar normatif bahwa hubungan seks bebas adalah suatu yang dapat diterima, kedua, teman sebaya menyebabkan perilaku seksual satu sama lainnya secara langsung, baik melalui komunikasi diantara teman ataupun dengan pasangan seksualnya.
Kebebasan
Kebebasan sosial dan seksual yang tinggi berkorelasi dengan sikap permisif dalam seks yang tinggi.
Daya tarik seksual
Mereka yang merasa paling menarik secara seksual dan sosial ternyata memiliki tingkat yang paling tinggi dalam sikap permisif dalam melakukan seks bebas.
Standar orang tua vs standar teman
Remaja yang orangtuanya konservatif dan menjadikan orangtua sebagai acuan yang utama lebih kurang kemungkinannya untuk melakukan seks bebas daripada mereka yang menjadikan teman sebaya sebagai acuan utama.
Saudara kandung
Remaja, secara khusus remaja puteri dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku saudara kandung dengan jenis kelamin yang sama.
Gender
Remaja puteri cenderung bersikap permisif dalam hal seksual daripada remaja pria. Remaja puteri lebih menekankan pada kualitas hubungan yang sedang dijalin sebelum terjadinya seks bebas.
Ketidakhadiran orang tua
Jika ada remaja yang berperilaku seks bebas, itu hanya bebasnya pergaulan, dan mungkin penyebabnya dari faktor bimbingan dan pola asuh dari orangtua di rumah yang tidak peduli atau tidak terbuka untuk membicarakan masalah seks pada anaknya, padahal disaat ini dunia remaja semakin bebas. Pada keluarga yang berada di kota besar, sudah merupakan suatu pola kehidupan yang wajar di mana ayah dan ibu bekerja. Hal tersebut seringkali mengakibatkan kehidupan anak-anak mereka kurang mendapatkan pengawasan orang tua dan memiliki kebebasan yang terlalu besar.
Kecenderungan pergaulan yang makin bebas
Di pihak lain, tidak dapat dipungkiri adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria.
Penyebaran Informasi Melalui Media Massa
Kecenderungan pelanggaran makin meningkat oleh karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yang dengan adanya tekhnologi yang semakin berkembang (video kaset, foto kopi, vcd, hp, internet) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab perilaku seks bebas adalah dari dalam keluarga, media massa, dan dari pengaruh peers (teman sebaya).
C.  Seks Edukasi
Menurut Purnama (2011) Pendidikan seks (sex education) adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. Informasi itu meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan.
Pentingnya Pendidikan Seks (Sex Education) Bagi Remaja
Ada beberapa hal mengenai Pentingnya Pendidikan Seks bagi Remaja, diantaranya yaitu:
a)    Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja
b)   Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami masalah seksualitas
c)    Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya
d)   Memahami masalah-masalah seksualitas remaja
e)    Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas
Selain itu ada dua faktor mengapa pendidikan seks (sex education) sangat penting bagi remaja. Faktor pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang tabu. Sehingga dari ketidak fahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks atau kesehatan anatomi reproduksinya.
Faktor kedua, dari ketidakfahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat, hal ini ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakfahaman remaja tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya.
Ada beberapa pendapat yang bilang, ”sex education” memang pantas dimasukkan dalam kurikulum di sekolah menengah, apalagi siswa pada ini adalah masa pubertas. Pendidikan Seks ”Sex education” sangat perlu sekali untuk mengantisipasi, mengetahui atau mencegah kegiatan seks bebas dan mampu menghindari dampak-dampak negatif lainnya.
Mungkin kita baru menyadari betapa pentingnya pendidikan seks karena banyak kasus pergaulan bebas muncul di kalangan remaja dewasa ini. Kalau kita berbicara tentang pergaulan bebas, hal ini sebenarnya sudah muncul dari dulu, hanya saja sekarang ini terlihat semakin parah. Pergaulan bebas remaja ini bisa juga karena dipicu dengan semakin canggihnya kemajuan teknologi, juga sekaligus dari faktor perekonomian global. Namun hanya menyalahkan itu semua juga bukanlah hal yang tepat. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu memberikan pendidikan seks (sex education) kepada generasi muda.
D.  Peberdayaan Kader Remaja Sehat Sex
Dengan hasil data yang didapat suatu seks edukasi sangat penting bagi para remaja, untuk mengetahui suatu penyebab dan akibat dari perilaku8 seks yang menyimpang. Dengan adanya seks edukasi diharapkan remaja dapat mengetahui seks yang sehat dan dapat mengurangi perilaku dan dampak yang diakibatkan oleh perilaku seks bebas yang marak terjadi dilingkup para remaja.
Dari hasil yang di atas perilaku seks bebas memang marak terjadi pada anak-anak usia remaja. Dengan adanya pemberdayaan pada remaja terutama pada pengetahuan seksual sangat penting karena hal tersebut diharapkan bisa mengurang perilaku seks bebas pada anak remaja.
Dengan adanya kegiatan pemberdayaan kader remaja sehat seks adalah mencari para anak-anak remaja yang masih peduli atau sudah terjangkit padaa perilaku seks bebas, hal tersebut dimaksudkan untuk menyadarkan para remaja untuk tetap menjaga perilakunya dalam seks, sehingga perilaku seks bebas tidak lagi dilakukan dan tidak pernah dilakukan.
Pada kegiatan di Pemberdayaan Kader Remaja Sehat Seks, para remaja yang dikader untuk berperilaku sehat seks tersebut dibekali tentang pengetahuan-pengetahuan seks atau yang sering disebut dengan seks edukasi, sehingga para kader tersebut bisa pemberi pengetahuan seks kepada remaja-remaja yang lain dan mengajak para remaja yang lain untuk ikut menjadi kader remaja yang sehat seks.
Dalam kegiatan tersebut diharapkan para kader sehat seks menjnadi meluas sehingga semakin banyak pula para remaja mengetahui tentang pengetahuan seks, diharapkan dengan adanya pengetahuan seks bebas para remaja pun tidak lagi masuk dalam perilaku seks bebas yang sangat marak pada kalangan remaja dan menciptakan remaja yang sehat seks.
Daftar Pustaka
Abdillah, Fuad Adam. Makna Hubungan Seks Bagi Remaja yang Belum, Menikah di Kota Besar Surabaya. Juranal Universitas Airlangga. Surabaya : Universitas Airlangga
Haryadi, Sigit dan Muslikah. 2013. Perkembangan Individu. Semarang : Depabliser
Haryanto. 2009. Pengertian Remaja. http://belajarpsikologi.com/. Diakses pada tanggal 24-11-2014 : 21.00.
Haryanto. 2011. Kenakalan Remaja. http://belajarpsikologi.com/. Diakses pada tanggal 24-11-2014 : 22.14.
Nova. 2013. Seks Bebas. http://nopanova1.blogspot.com/p/pengertian-dan-penyebab-prilaku-seks_23.html. Diakses pada tanggal 25-11-2014: 08.30.
Purnama, Dian Septi. 2011. Seks Edukasi. http://belajarpsikologi.com/. Diakses pada tanggal 24-11-2014 : 21.00.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar dengan baik dan sopan !