Kamis, 01 Januari 2015

Perubahan Baru, apa cuman merayu ?

Perubahan Baru, apa cuman merayu ?

Karya : Ahmad Heri Nugroho

Mencoba untuk berfikir kritis akan kejadian yang tampak dan nyata dalam suatu kehidupan sosial yang terjadi dalam ragam masyarakat. Menulis adalah hobbi yang di miliki dengan pemikiran idealinya.

Apa yang terfikir pada pemimpin saat ini, mereka mengatakan bahwa mereka akan membuat kita berjaya, hidup sejahtera, dan mereka bilang kalau kami datang untuk rakya. Namun semua itu tampak sebuah kata-kata yang sama diucapkan oleh Jepang saat mereka datang ke negara ini. Akankah hal tersebut yang dinilai oleh mereka dengan suatu perubahan baru, atau hanya rayuan saja yang mereka ucapkan.

Perubahan yang mereka inginkan adalah perubahan yang nampaknya hanya menguntungkan bagi mereka, tanpa melihat nasib orang yang berusaha untuk mendukung mereka, bahkan ada yang hampir menyembah mereka, namun nampaknya hal itu malah mmembuat mereka tampak sumringah untuk memperkaya diri. Inikah pemimpin masa kini yang menggemborkan kata-kata perubahan baru, namun hanya rayu.

Yang paling memperhatinkan hal tersebut bukan hanya dilakukan oleh para pemimpin yang ada di tingkat Nasional saja tapi digemborkan juga oleh para pemimpin dibawahnya. Hal yang paling mengenaskan kembali rayuan tersebut juga dilakukan oleh para pemimpin muda, bahkan mahsiswapun yang katanya orang paling idealis dengan kepimpinannya sekarang mulai tertular untuk melakukan gemboran perubahan tapi hanya rayuan.

Terus kalau mereka hanya melakukan geboran \perubahan tapi nyatanya mereka masih melakukan kebobrokan apakah mesti kita harus menuruti mereka ? Ketika memilih untuk menurutimerekan bagaimana nasib kita yang dulu telah memilih mereka ?, tapi bila kita berani mengeritik mereka, eh bodyguard mereka malah menangkap kita. Oh, bingung ya apa yang harus kita lakukan ?, kok nampaknya lebih kejam ya dari pada bakuhantam di arena penjajahan masa lalu.

Dengan adanya hal tersebut di atas terus yang salah itu siapa ? akankah mereka yang salah dengan rayuannya, ataukah kita yang salah karena kita termakan oleh rayuan perubahan yang mereka gemborkan. Semua ini ternyata juga merupakan suatu  intropeksi untuk diri kita, untuk menentukan pemimpin yang bukan hanya menggemborkan perubahan yang hanya rayuan. Namun kita harus cerdas untuk memilih seorang yang memang akan membawa kita menuju suatu perubahan nyata yang benar mereka lakukan dengan penuh kesadaran, bukan berkata dalam alam non kesadarannya.

Tapi memang membingungkan kawan, kita disuruh untuk kita cerdas, namun pemimpin sekarang pada berlomba-lomba terjangkit virus rayuan perubahan. Terus bagaimana kita harus mencerdaskan diri kita untuk memilih pemimpin yang semuanya terjangkit virus tersebut, layaknya seorang hidung belang harus cerdas memilih pasangan ranjangnya, namun pilihanya terkena HIV semua. Semuanya membuat kita tampak akan memakan buah qoldi yang kita makan akan jadi racun, kalau tidak kita makan malah membuat kita ngiler. Seperti halnya, kalau kita golput dikatain kalau kita gak demokrasi, tapi kita milih, milih orang yang bawa kita keperuhan eh hanya rayuan, tapi ketika kita jadi golongan hitam (pemilih yang suaranya tidak sah) seperti hanya menghamburkan uang untuk pemilu tersebut, padahal uang itu dari pembayaran pajak kita juga. Wah, semuanya nampaknya menjadi hal yang membingungkan ya.

Nah, dari beberapa pernyataan diatas, yang mana dong yang harus kita pilih ?, untuk mendapatkan lebel pemilih yang cerdas. Semua itu ada digenerasi dan pendidik generasi kedepan kawan yang memang harus dididik bukan pintar gembor rayuan, tapi cerdas dalam menyikapi rayuan sehingga perubahan itu nyata.

Bagaimana bisa kawan, kalau mereka sekarang aja kurang diberi waktu untuk menyikapi hal tersebut, malah sekarang mereka banyak waktu dihabisakan untuk mengerjakan masalah akademik dari pendidik, tak ada waktu untuk mereka merasakan masa mereka untuk bersosialisasi dan belajar secara praktis menjadi seorang pemimpin yang diarahkan. Apakah menjadi seorang pemimpin yang bisa bertidak nyata tersebut hanya perlu cerdas akademik saja ?. Kalau tidak, mengapa para pendidik sekarang banyak membebani mereka dengan akademik mulai dari dini, dan memberikan mereka sedikit waktu untuk berlatih menjadi pemimpin yang terdidik cerdas.

Apakah sudah habis ya pemimpin kita yang benar-benar berjuang untuk perubahan sesungguhnya buat kita, bukan berjuang untuk mereka berubah menjadi penjajah kita. Hal tersebut memang sangat berat untuk kita fikirkan solusinya. Karena solusinya pasti akan ada bantahan lain, karena semua ini adalah virus yang berkembangkan dan hanya bisa diredakan dan sulit untuk dimusnahkan.

Namun kalau kita pahami, kata sulit berarti bukan kata yang mutlak untuk tidak bisa membasmi virus tersebut. Kita masih mempunyai waktu untuk kita melakukan suatu perubahan nyata untuk masa depan kita, supaya musnah semua pamimpin penyempah perubahan untuk perubahan tersebut. Semua itu ada dari mulai diri kita, kitalah yang harus memutus raintai tersebut denga awali diri kita untuk intropeksi diri akan kita salah satu dari mereka, akankah kita akan mendekati mereka atau kitalah yang medorong untuk menjadi seperti mereka. Setelah kita tahu tentang diri kita maka kita akan tahu bagaimana solusi untuk kita keluar dan menjauh dari golongan mereka, maka kita atau generasi binaan kitalah yang mampu untuk merubah tanpa berubah, menjadi pendobrak perubahan baru tanpa rayu. Mari kita berusaha demi pemimpin kita yang bisa menjadi seorang wakil pilihan sungguhan, bukan pemimpin yang akan menjajah kita sungguhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar dengan baik dan sopan !